Rabu, 18 Agustus 2010

Habib Rizieq Shihab


Pendiri dan juga sekaligus sebagai Ketua Front Pembela Islam (FPI) ini Lulusan sari Universitas King Abdul Aziz di Jeddah, Arab Saudi, Mengambil Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Gelar S1 didapatnya dengan predikat mumtaz atau cum laude, sehingga beliau diberi kesempatan untuk mengajar di salah satu SMU di Saudi Arabia, Kesempatan ini bisa di bilang jarang sekali untuk warga pendatang.

Setelah menyelesaikan S1, beliau pulang dari saudi, dan kemudian mengajar di Lembaga Pendidikan Said Naum. Beliau juga memimpin Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam Darul Fiqh, dan beliau juga menjadi anggota Dewan Syariah Bank Perkreditan Rakyat Syariah At-Taqwa, Tangerang.

Habib Rizieq sering masyarakat memanggil beliau, mendirikan FPI pada 17 Agustus 1998, dengan tujuan perbaikan di lapangan akhlak dan moral. menurut beliau, Reformasi di segala bidang hampa belaka tanpa reformasi di bidang akhlak. Beliau mengklaim, FPI telah berdiri lebih dari 17 Provinsi dan lebih dari 5 juta anggota dan lebih dari 15 Juta simpatisan.

Sosok beliau cerdas, tangkas dan berapi-api. walau demikian, pria berusia 41 tahun ini tetaplah sosok yang tampil berpikir strategis ke depan. Menurutnya, FPI menghancurkan tepat maksiat setealh melalui sejumlah tahap yang amat panjang. Ketika di tuding bahwa penghancuran itu menimbulkan mudharat yang lebih besar, ia langsung menegaskan, kehancuran akibat perjudian, Narkoba dan Minuman Keras jauh lebih besar dari kaca - kaca yang hancur atau bangunan yang rusak. Betapa banyak keluarga yang berantakan akibat kerusakan moral yang selama ini didiamkan pemerintah.

Beliau tidak takabur dengan gelar "Habib" yang ditujukan untuk keturunan Nabi, Sebelum beliau pergi ke saudi, beliau sudah dikenal sebagai Mubaligh. Bagi beliau, tugas ini lebih sebagai kewajiban dan tuntunan hati nurani, dari pada perasaannya sebagai keturunan Nabi saw. Nuansa sederhana sangat terlihat dari pribadi beliau. Ketika FPI dituding menerima dana dari beberapa tokoh, beliau menampik dengan bukti-bukti yang kuat. Beliau tinggal di kontrakan yang sekaligus di jadikan markas FPI waktu itu.

Selasa, 17 Agustus 2010

Abu Bakar Ba'Asyir




Jika kita melihat sosok Ustadz Abu Bakar Ba'asyir, pasti kita melihat sosok penampilan yang sederhana dengan Kopiah,baju koko, rambut dan jenggot yang telah memutih dan tak lupa Sarung khas kiai Pesantren. Betul-betul apa adanya, tidak dibuat-buat. Banyak orang yang tidak percaya terhadap setumpuk tuduhan yang telah ditimpakan pada pria kelahiran Jombang, 17 Agustus 1939 ini. Berbagai tuduhan telah dilayangkan pada beliau, mulai dari Pemimpin Jamaah Islamiyah (JI), Makar, terkait dengan sejumlah peledakan pada malam natal 2000, Bom Bali 2002,dan sekarang dikaitkan dengan aksi latihan Militer di Aceh sebagai sumber dana. Dulu Beliau sempat di tahan selama 4 tahun meskipun dari semua tuduhan tidak ada yang terbukti.

Keinginannya sangat jelas, sejelas tutur kata yang jauh dari kesan munafik seperti politikus-politikus sekarang yang pandai bermain lidah. Bagi beliau, Syariat Islam harus ditegakkan. Tetapi keinginan beliau itulah yang membuatnya sebagai target yang paling diburu. Ustadz Abu dianggap ingin membentuk negara Islam se-Asia Tenggara, sehingga keinginan ini dinilai mengancam eksistensi dunia barat terhadap dunia.

Bagi Umat Islam Indonesia, khususnya ribuan santri Pesantren Al-Mukmin,Ngruki, Ustadz Abu adalah sosok guru dan orang tua yang sangat dihormati. Kalau ia garang, itu semata-mata karena sikap terus terang beliau mendukung penegakan syariat Islam. Ustadz Abu Bakar Ba'asyir menjadi aikon perlawanan pada dekade 80-an. Beliau melakukan kebijakan yang bertentangan dengan pemerintah. sebagai contoh, beliau melarang santrinya untuk menghormat pada bendera, karena menurutnya itu adalah perbuatan syirik. Beliau juga dituduh menghasut orang untuk menolak asas tunggal Pancasila, kemudian di tuduh terlibat dalam gerakan Hispran (Haji Ismail Pranoto). Pada dekade 80-an itu, tepatnya tahun 1983, beliau dan Abdullah Sungkar ditangkap dan di hukum 9 tahun penjara. Pada saat kasusnya masuk kasasi, Ustadz Abu dan Abdullah Sungkar dikenai tahanan Rumah. Pada masa inilah sekitar tahun 1985, mereka mengasingkan diri ke Malaysia. Dan Ustadz Abu kembali ke Kampung Halaman setelah Rezim Soeharto runtuh pada tahun 1998 yang lalu. Mungkin Penjara memang bisa mengungkung fisik beliau, Tapi, Penjara tak bisa membelenggu militansi dan kegigihan beliau. Dan ia akan terus melawan. 

untuk mengikuti update terbaru tentang Ustadz Abu Bakar Ba'Asyir
Kunjungi pula http://www.freeabb.com/



Ismail Yusanto


Pada Tahun 1987 sosok Ismail Yusanto mulai dikenal oleh orang banyak ketika ia dipercaya menjadi juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atau dulu dikenal Partai Pembebasan Indonesia. Ismail Yusanto adalah pribadi yang dikenal lugas, dan sangat terbuka dalam mensosialisasikan Visi dan misi juga termasuk agenda dari HTI. Ia bahkan menyerukan bersatunya umat islam untuk mengembalikan kehidupan islami dengan jalan menegakkan Khilafah Islamiyah.

Pernah suatu ketika Ismail membalikkan logika berfikir para penganut demokrasi, yaitu dengan menganggap hajatan Demokrasi sebagai "pesta" yang penuh dengan paradoks. karena, PEMILU tersebut tidak menentukan benar atau salah tapi ditentukan dengan jumlah suara yang diperoleh. Disini bisa saja Partai sekuler karena mendapat dukungan yang banyak akhirnya memenangkan pemilu, sedangkan partai yang baik harus menerima kekalahan. "lha disinilah paradoksnya, dimana yang baik dikalahkan keburukan". Masih ingat dengan kata-kata beliau yaitu "Jika kita ikut pemilu untuk tatanan yang sekularistik, hukumnya wajib atau haram ?" kemudian ia mengutip fatwa MUI yang menetapkan jihad bagi tiap Muslim dalam masalah pemilu. dan kemudian ia berargumen, "Dalam masalah Ambon, MUI tidak mengeluarkan fatwa jihad. sedangkan giliran pemilu, keluar fatwa jihad. Sangat menarik apa yang dikemukakan ulama, jika hasil dari pemilu seperti itu, maka hukumnya haram. sedangkan golput justru punya landasan harfiah dengan arti bahwa golput bukan dosa tapi malah mendapatkan pahala." tegas beliau.

Pria kelahiran Yogyakarta 48 tahun silam ini, menyelesaikan S1 di jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM pada tahun 1988. Setelah lulus beliau mondok di Ponpes Ulil Albab di daerah bogor hingga tahun 1991. Suami dari Zulia Ilmawati ini dikenal dengan konsisten dalam menuangkan gagasan-gagasannya yaitu untuk menjaga kesatuan dan persatuan wilayah indonesia dalam bingkai negeri-negeri islam, beliau pun kencang sekali dalam menyuarakan peluang perubahan struktur kenegaraan.

inilah sebagian kecil kiprah dari pejuang khilafah yang mempunyai latar belakang pendidikan Teknik Geologi, Ia sempat mendapat banyak tawaran yang menggiurkan dari perusahaan pertambangan asing yang banyak beroperasi di negara kita, tetapi ia memilih menjadi pejuang, membebaskan negerinya dari "penjajahan" asing yang masih berlangsung sampai sekarang ini.

Selasa, 10 Agustus 2010

HIDAYAT NURWAHID



Pada Ahad 22 mei 2000, Hidayat Nurwahid yang sering dikenal sebagai ustadz dan cendekiawan ini terpilih menjadi Presiden Partai Keadilan dalam Munas I di kota Depok, 21 - 22 mei 2000. Sejarah mencatat, partai yang kelahirannya dibidani oleh intelektual - intelektual Muslim ini harus kepentok electoral treshold. dan akhirnya, partai yang cikal bakalnya telah tumbuh sejak tahun 1980-an dalam wadah gerakan dakwah tarbiyah ini melebur ke dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Meski waktu itu menyandang nama baru, Konstituen dan kader-kadernya tetap menghendaki Doktor Aqidah dari Universitas Islam Madinah Arab Saudi ini, kembali menjadi Ketua Umum. Selama kepemimpinannya, Ustadz Hidayat mampu mengantarkan partai yang sebelumnya mendapat julukan The Rising Star, menjadi partai yang kian di segani kawan maupun lawan. Buktinya, ketika polemik amandemen UUD 45 pasal 29 memuncak dan partainya dicap menolak piagam jakarta yang diusulkan PPP dan PBB, ia hanya menambahi "Ada banyak pintu dalam usaha penerapan syariat Islam".

Bahkan, melalui Fraksi Reformasi kader-kader PKS malah mengusulkan diterapkannya piagam madinah dalam amandemen pasal 29. Hidayat menanggapi "Pendekatan yang kami kedepankan adalah wacana ajaran agama dan alternatif yang kami ajukan adalah sebuah piagam yang berisi aturan-aturan yang pernah diberikan dan dicontohkan Nabi Muhammad saw, dan Piagam ini memberikan jaminan kesetaraan hidup beragama, sehingga bisa memberikan keadilan hidup beragama, menjamin integrasi bangsa, tak ada eksploitasi satu kelompok atas kelompok lain."

Kiprah dan Kepemimpinan Hidayat Nurwahid alumnus dari Ponpes Gontor ini tdak hanya retorika, ia juga mau berjalan kaki sekian kilometer bersama kader dan simpatisan untuk melakukan demo di jalan-jalan ibu kota. Ia juga aktif dalam gerakan penolakan perang, serangan militer AS terhadap Irak dan Afganistan, serta tindakan biadab Israel terhadap Palestina. Pria kelahiran Klaten Jawa Tengah, pada tanggal 8 April 1960 menanggapinya, dalam berpolitik keberkahan adalah hal utama. kemenangan bukan tujuan kami, kalau bukan karena pertolongan Allah, mustahil kami bisa seperti ini. Ini semua bagian dari Tadbir rabbani (pengaturan Allah).

Meskipun begitu, Partainya pernah dicap eksklusif dan fundamentalis karena berasakan islam. " Ya, mungkin itu bisa dianggap eksklusif jika islam dipahami sebagai sesuatu yang sangat terbatas dan angker. Tapi, itu bisa inkusif jika islam dipahami sebagai paradigma." Sebagai sebuah paradigma, Islam setidaknya meliputi empat hal, Pertama, al-islam yaitu penyerahan diri kepada allah Sang Pencipta. Kedua, al-Silm (Kedamaian). ketiga, al-Salam (Kesejahteraan). Keempat, al-Salamah (Keamanan atau keselamatan).

Tidak mengherankan dengan pandangan dan perilaku politik Dosen Pasca Sarjana di Universitas Islam Negeri Jakarta ini- selalu konsisten dalam bingkai partai dakwah, kiprah dan kepribadiannya juga diakui oleh berbagai kalangan di luar konstituennya. Majalah Tempo menulis tentang Hidayat Nurwahid seperti ini " Kalangan PK mengenal Hidayat Nurwahid sebagai pemimpin yang memiliki integritas tinggi. Politisi ini tak gelap mata ketika Presiden Megawati di masa awal pemerintahannya menawarkan jabatan menteri. Tawaran serupa bukan barang baru kendati partai ini memiliki suara minoritas pada saat itu dalam parlemen. Biarlah kami tetap berada diluar struktur, katanya ".
 

Minggu, 08 Agustus 2010

ARIFIN ILHAM



Isak sedu menyayat-nyayat, diiringi lantunan asma Allah, Suara Dzikir gulung menggulung dalam lautan tangis, ditengah belaian angin, meremas para pedzikir. Mayoritas mereka berpakaian serba putih dan selalu khidmat mengikuti acara Dzikir Akbar yang di pimpin oleh Arifin Ilham. Begitulah suasana setiap kali acara dzikir yang dipimpin oleh Arifin Ilham. Sejak Sembilan tahun yang lalu, Majelis dzikir menjadi fenomena baru di Tanah Air. Dzikir yang selama ini dikenal sebagai ibadah pribadi dan dlakukan secara menyendiri, kini dikemas menjadi kegiatan massal dan dipublikasikan secara luas.

Majelis dzikir bermula dari acara pekanan jamaah Masjid al-Amru bit Taqwa usai Subuh setiap sabtu mulai pada taun 1999. Awalnya hanya sekitar tujuh orang warga perumahan Mampang Indah Dua, Depok, Sawangan, Jawa Barat yang menjadi jamaah tetap. Lama kelamaan peserta dzikir pun bertambah. Bersama para jamaahnya, Arifin Ilham mengupayakan agar kegiatan yang dipimpin lebih dikenal publik. Akhirnya peserta dzikir tidak hanya datang dari warga sekitar, tapi juga Cirebon, Banjarmasin, bahkan Singapura. Yang hadir bukan hanya kalangan bawah, tapi pejabat dan tokoh masyarakat.

Kegiatan dzikir berjamaah ini berlangsung juga di berbagai masjid yang tergolong besar. Biasanya, acara tersebut dihadiri ribuan jamaah. Tentu kegiatan yang dikomandani oleh pria kelahiran Banjarmasin, 8 Juni 1969 ini tak luput dari kontroversi. Utamanya tentang dzikir bersama yang ia komandani. Walaupun demikian, Arifin sepakat bahwa dzikir bisa dilakukan kapan saja. Kegiatan yang ia lakukan hanyalah pancingan , tak boleh berhent pada tataran kegiatan seremonial saja.

Untuk itu, Arifin selalu menyela acara dzikirnya dengan Taushiyah (nasihat). “Insya allah kalau terus mendengar ceramah saya, anda akan menangkap empat ajakan, ikhlas, akhlak mulia, kasih sayang, dan tawakal,”. Arifin sering menyebut dzikir yang ia pimpin dengan dzikir tauba. Mereka yang sudah mengikuti dzikir ini diharapkan tidak kembali berbuat maksiat. Agar terhindar dari maksiat, Arifin mengimbau jamaahnya untuk melaksanakan tujuh Sunnah nabi. Yaitu menunaikan shalat tahajud, Membaca AL-Quran, Shalat Fardhu di Masjid, Shalat Dhuha , Bersedekah, menjaga wudhu, dan selalu beristighfar. “Bila sunnah nabi diamalkan, insya allah akhlak menjadi santun,”

Untuk itu, beberapa kegiatan lain mulai digelar, mulai TKS (Titian Keluarga Sakinah), Ini adalah sebuah unit kegiatan bergerak di bidang biro jodoh dan konsultasi problematika keluarga, “Saat ini terdaftar lebih dari 300 akhwat dan lebih dari 50 ikhwan,”. Minimal satu bulan sekali, anggota TKS berkumpul menerima taushiyah dari Arifin Ilham.

Penyelenggaraan majelis dzikir di beberapa daerah didukung oleh Yayasan al-Amru bit Taqwa dan Majelis adz-Dzikra. Dalam aktivitasnya, adz-Dzikra terjun ke dunia bisnis secara professional. “Kita akan membuat supermarket dan perumahan, kita sudah punya lahan sekitar 42 ha di daerah cipanas,” ujar arifin. Saat ini, majelis adz-Dzikra sedang membangun pondok pesantren khusus yatim piatu yang juga berlokasi di perumahan Mampang Indah Dua. Direncanakan pondok pesantren ini akan digunakan untuk menampung korban kerusuhan Ambon dan Poso serta dari beberapa daerah konflik lainnya.

Bila dirunut kembali ke belakang, tak ada yang istimewa dari arifin Ilham. Ipin demikian panggilan Arifin waktu kecil, tumbuh layaknya anak-anak biasa. Selain belajar Al-Quran sejak kecil, Ipin juga suka bermain, bahkan kadang-kadang berkelahi dengan teman-temannya.Keinginannya yang keras untuk belajar agama mengantarkannya nyantri di pondok pesantren Darun Najah Jakarta (1983 - 1987). Selanjutnya, Arifin melanjutkan pendidikan agamanya ke Pesantren Asy-Syafiiyah Jakarta (1987 - 1989). Dari sinilah Arifin mengasah kemampuan berdakwahnya. Pada tahun 1989 – 1994, ia melanjutkan studinya di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Nasional Jakarta.
Selain berkeliling ke berbagai daerah, ayah dua anak ini dan suami dari Wahyuniatai al-Wali juga mengisi beberapa program televisi dan radio. Ia juga memberikan siraman rohani lewat al-quran seluler, kemasan dakwah melalui handphone bersama Ihsan Tandjung, Aa Gym dan KH. Didin Hafidhuddin. Dengan serentetan acara inilah Arifin mengajak Indonesia berdzikir. Dan dari dzikir diharapakan akan muncul hasil revolusi dalam kebaikan di negeri ini.

ABDULLAH GYMNASTIAR


Sosok satu ini memang lain, Aa Gym berani tampil beda ketika berada di podium dan saat dalam kesehariannya. Selama ini kita melihat penampilan Aa Gym di televisi atau di berbagai podium pengajian, tak pernah lepas dari sorban. Tapi tidak begitu ketika sedang dalam keseharian bersama para santrinya. Ia sering mengenakan sepatu lars, sweater perwira, dan motor besar. Khususnya ketika sedang menggelar acara bersih-bersih.

Sisi lain dari pria kelahiran 29 Januari 1962 ini adalah konsep dakwahnya. Aa Gym menawarkan diri untuk mengajak orang memahami hati atau qolbu dan diri sendiri, agar mau dan mampu mengendalikan diri setelah memahami benar siapa dirinya sendiri. Program Tiga M ( Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang terkecil, dan Mulai dari sekarang ) menjadi konsep utamanya. Menurutnya, orang sering lupa terhadap dirinya sendiri, bahkan, orang selalu menyalahkan orang lain jika terjadi sesuatu pada dirinya. Sebaiknya semua orang harus sadar, bahwa semua yang terjadi dan bakal terjadi bermula dari dirinya sendiri. Jika ingin jadi baik, tentu dia dia harus berbuat baik. Jadi, harus lebih dulu mengenali dan memahami diri sendiri.

Dengan mengutip hadist Rasulullah saw, ia mengatakan, bahwa dalam diri manusia itu terdapat suatu organ. Kalau organ itu baik, baik jugalah seluruh tubuh manusia itu. Tetapi, kalau ia busuk, busuk pulalah seluruh tubuhnya. Organ itu adalah Hati. Menurutnya, hati adalah raja. Sehubungan dengan itu, dalam dakwahnya Aa Gym selalu menyampaikan arti penting manajemen qalbu ( hati ). Sebab, bila seseorang memiliki hati yang baik, maka akan baik juga perilakunya. Menurut Aa Gym, kejujuran adalah modal dasar untuk membentuk jiwa yang tangguh, penuh dedikasi, dan disiplin dalam menjalankan kerja sehari-hari. Dan, disiplin adalah modal dasar untuk membentuk kader-kader unggul yang selalu haus prestasi. Langkah seperti itulah yang diterapkan dalam membina para santrinya.
Aa Gym, tidak saja menjadi idola para remaja dan kawula muda tetapi menjadi figure “baru“ dakwah islam di banyak lapisan masyarakat. Jadwal kegiatannyapun cukup banyak. Selain memberikan ceramah di pondok Pesantren Daarut Tauhiid, Aa Gym juga kerap mengisi panggilan ceramah diluar kota bandung.

Yayasan Daarut Tauhiid yang dipimpinnya, saat ini telah berhasil mengembangkan berbagai kegiatan. Tak saja dibidang pembinaan mental dengan system Manajemen Qolbunya, tapi secara keseluruhan Aa Gym telah berhasil mengembangkan aset pondok pesantrennya sampai sekitar Rp. 8 Milyar. Sungguh luar biasa untuk perkembangan sebuah pondok pesantren yang tergolong baru.

Sejarah Daarut Tauhiid (DT) berawal sejak 1987, ketika seorang pemuda Abdullah Gymnastiar merintis usaha melalui wadah KMIW (Keluarga Mahasiswa Islam Wiraswasta). Sebagai hasil usaha itu digunakan untuk menopang kegiatan pengajian rutin yang dipimpinnya. Semakin hari usaha yang dirintis Aa Gym semakin berkembang, sejalan dengan bertambahnya jamaah yang datang mengikuti pengajian rutin yang diasuhnya. Untuk mewadahinya, maka pada 4 September 1990 didirikanlah secara resmi Yayasan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Ahmad Yani ini, memilih di panggil Aa (kakak) dari pada kiai. “Saya ingin akrab dengan semua lapisan masyarakat. Kalau dipanggil kiai sepertinya ada jarak”. Berawal dari sebuah kamar kontrakan, kini Daarut Tauhiid memiliki aset cukup besar untuk ukuran sebuah pondok Pesantren. Pada 1993, Daarut Tauhiid menangani usaha pembebasan tanah untuk membangun masjid permanen berlantai tiga. Masjid ini diberi julukan Masjid Seribu Tangan karena dibangun secara gotong royong oleh ribuan masyarakat sekitar, dan para jamaah Daarut Tauhiid. Untuk membantu kelancaran kegiatan dakwahnya, pada 1994, didirikan Koperasi Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (KOPONTREN DT). Satu hal lagi yang menarik dari Pondok Pesantren Daarut Tauhiid ini adalah perhatiannya terhadap lingkungan hidup dan disiplin para santrinya. Mulai dari pintu masuk Jalan Geger Kalong Girang ke lokasi Pondok Pesantren Daarut Tauhiid sekitar 500 meter, Nampak bersih dan tak ada sampah yang berserakan. Setiap pagi ada petugas khusus yang membersihkan jalan di lingkungan pesantren. Dengan cara inilah Aa Gym hendak menata qolbu Indonesia. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil dan mulai dari sekarang.

KH. Zainuddin MZ


Dai kondang sejuta umat, KH Zainuddin MZ, memilih jadi poltikus. Ia masuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun, tampaknya ia tak betah berlama-lama di PPP. Pada 20 januari 2002 bersama rekan-rekannya, ia mendeklarasikan PPP Reformasi. Dalam Muktamar Luar biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta, nama partai yang ia pimpin menjadi Partai Bintang Reformasi. Secara resmi pada waktu itu ia ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini.

Menurut KH. Zainuddin MZ, partai yang dipimpinnya adalah partai baru, bukan pecahan dari PPP, bukan juga PPP jilid dua. Hal itu disampaikan dalam pidatonya pada acara Gema Muharram 1423 H, Taaruf (perkenalan) Nasional PPP Reformasi dan Tabligh Akbar, Ahad (24/03/02) di gelora Bung Karno Jakarta.

Dunia politik bukanlah hal baru bagi pria kelahiran Jakarta, 2 maret 1951 ini. Pada tahun 1977-1982 ia sudah bergabung dengan partai PPP  yang saat itu berlambang Ka’bah. Bersama beberapa tokoh NU dia keliling ke banyak wilayah mwngkampanyekan PPP. Hasil yang diperoleh saat itu cukup signifikan dan sempat mempengaruhi dominasi Golkar. Tak ayat, kondisi itu membuat penguasa Orde Baru was was. Akhirnya mereka sering di teror. KH. Zainuddin merasakan ruang dakwahnya terjepit. Maka sejak 1983 ia tidak lagi menggeluti urusan politik praktis. Pernyataannya yang sangat terkenal saat itu adalah, “Saya tidak kemana-mana. Tapi, saya ada dimana-mana”. Sejak itulah ia memfokuskan profesinya di bidang dakwah. Sejak itu, nama Zainuddin makin berkibar.

Lalu, kalau kini ia kembali terjun ke dunia politik praktis, apa alasannya ?  “saya penasaran mengapa partai berbasis islam tidak memenangkan pemilu,” itu kata beliau. Namun tampaknya itu sekedar cerita masa lalu. Harapan PPP untuk memanfaatkan dai sejuta umat ini untuk mendongkrak perolehan suaranya yang jeblok pada pemilu 1999 justru menjadi persoalan baru. Pasalnya, Zainuddin hengkang dari PPP dan mendeklarasikan Partai Bintang Reformasi.

Dengan Ketokohan dan senioritasnya, kini Zainuddin tampil sebagai komandan PPP Reformasi (kemudian berubah menjadi Partai Bintang Reformasi) yang sebagian besar diisi kalangan muda PPP. Tapi, dia menolak jika peran dominannya dinilai datang tiba-tiba. Sebab, dia bukan orang baru di PPP.
Totalitas Zainuddin untuk PPP bisa dirunut dari latar belakangnya. Secara kultural dia warga Nahdiyin, atau menjadi bagian dari keluarga besar NU. Dengan posisinya tersebut, dia ingin memperjuangkan NU yang saat itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orde Baru pada 5 Januari 1971. Ormas lain, yang menjadi bagian fusi itu diantara lain, Muslimin Indonesia (MI), Perti, dan PSII.

Selain itu, Keterlibatannya dalam PPP tak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham khalid yang pernah jadi ketua umum PBNU. Dia mengaku lama nyantri di ponpes Idham Khalid di Cipete, Jakarta Selatan yang belakangan identik sebagai kubu dalam NU. Kemunculan dai kelahiran Betawi ini, sangat fenomenal. Pada masa kekuasaan dan pemerintahan Orde Baru dakwahnya menjadi menarik karena mampu menembus berbagai sektor, kalangan dan golongan.

Anak Tunggal buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga betawi asli ini sejak kecil memang sudah nampak mahir berpidato. Udin nama panggilan keluarganya suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang kerkunjung di rumah kakeknya. “Kenakalan” berpidatonya itu tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di Darul Ma’arif, Cipete Jakarta. Disekolah ini Udin belajar pidato dalam forum ta’limul Muhadharah (belajar berpidato). Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang, setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya. Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir.
Karena ceramahnya sering dihadiri puluhan ribu umat, maka tak salah kalau ia dijuluki “Dai Sejuta Umat”.

Suami Hj. Khalilah ini semakin dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai memasuki dunia rekaman. Kasetnya beredar bukan saja di seluruh pelosok Nusantara, tapi juga ke beberapa Negara Asia. Sejak saat itu, ia mulai dilirik beberapa stasiun Televisi. Bahkan dikontrak oleh sebuah biro perjalanan haji yang bekerjasama dengan televise swasta bersafari bersama artis ke berbagai daerah dengan slogan Nada dan Dakwah. Menurut KH.Zainuddin MZ yang pernah mendapatkan doctor honoris causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia ini, politik itu pada dasarnya bersih,. Seperti pisau, ia bisa memotong leher ayam dan bisa memotong leher orang. Tergantung siapa yang menggunakannya. Karena itu para pelaku politik harus mempunyai moral politik.

HIZBUT TAHRIR INDONESIA ( HTI )


Pertengahan tahun 2000, Publik Indonesia dikejutkan oleh sebuah konferensi internasional soal khilafah Islamiyah. Meski kata-kata Khilafah Islamiyah sedemikian akrab bagi kalangan aktivis dakwah dan sebagian Muslimin, tapi tidak demikian bagi masyarakat kebanyakan. Dalam situasi demikian dan di balut momen reformasi, konferensi yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ini berlangsung di Istora Senayan, Jakarta. Acara besar ini, menandai kali pertama HTI sebagai salah satu gerakan dakwah di tanah air, unjuk gigi dihadapan publik.  Konferensi yang bertujuan untuk mensosialisasikan metode dakwah, gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran Hizbut Tahrir (HT) ini, menghadirkan tokoh-tokoh HT dari dalam dan luar negeri. Diantaranya KH dr Muhammad Utsman dari SPFK Indonesia, Ismail al-Wahwah dari Australia, Syarifudin M Zain dari Malaysia, dan Muhammad al-Khaththath dari Indonesia.

Kemunculan perdananya ditengah-tengah publik, tak hanya sampai disini. Bulan Agustus 2002, ribuan aktivis, kader, dan simpatisan HTI melakukan longmarch dari Monas ke gedung DPR/MPR menuntut diterapkannya Syariat Islam di Indonesia. Sebelumnya, Juli 2002, kader – kader HTI mengadakan diskusi publik bertajuk “Syariat Islam Rahmat bagi Seluruh Manusia”. Publik selanjutnya pun bertanya, begitu muncul di penghujung 2000-an ini, kok langsung memboyong aktivis, kader, dan simpatisan sampai ribuan orang, sebetulnya jauh sebelum tahun 2000 langkah dakwah telah dirintis jauh sebelumnya. Gerakan dakwah HT telah bermula sejak tahun 1982/1983.

Masuknya HT ke Indonesia ini, bermula dari Ustadz Mama Abdullah bin Nuh. Pengelola Ponpes Al-Ghazali Bogor yang juga staf pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini. Mengajak Ustadz Abdurrahman al-Baghdadi , seorang aktivis HT yang tinggal di Australia untuk menetap di Bogor. Pada saat inilah al-Baghdadi berinteraksi dengan para aktivis Islam di Masjid Al-Ghifari, IPB,Baranangsiang, Bogor.

Pemikiran-pemikiran HT yang diperkenalkan Al-Baghdadi, rupanya mampu menarik perhatian aktivis masjid kampus ini. Mulailah dibuat halaqah – halaqah kecil untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan HT. Buku-buku HT, seperti Syaksiyah Islamiyah, Fikrul Islam, Nizhamul Islam pun dikaji serius. Melalui Jaringan Lembaga Dakwah Kampus inilah, ajaran HTI menyebar ke kampus-kampus diluar bogor seperti Upad, IKIP Malang, Unair, Unhas dan akhirnya menyebar keseluruh Indonesia.

Tahun 1987, Ustadz Mama Abdullah Bin Nuh wafat. Sejak saat itu, Kepemimpinan HTI dikendalikan oleh KH Muhammad al-khaththath dan Muhammad Ismail Yusanto sebagai juru bicaranya. Perkembangan Dakwah dan keanggotaannya pun terus bertambah. Hingga kini jumlah anggotanya lebih dari 10.000 orang. Sebagai partai politik lintas nasional, HT bermula dari partai politik islam yang didirikan oleh syekh Taqiyuddin An-Nabhahani tahun 1372 H/1953 M di baitul al-Maqdis, Jerusalem. Sementara, Taqiyuddin sendiri lahir di Ijzim, Palestina. Ia pernah belajar di Al-Azhar dan Daral-Ulum, Kairo, Mesir. Selain itu, Syekh ini juga pernah menjabat sebagai hakim dan Dosen di palestina, di Al-Azhar dan Daral-Ulum, Kairo, Mesir. Selain itu, Syekh ini juga pernah menjabat sebagai hakim dan Dosen di palestina, Yordania, dan Baitul-Maqdis. Tahun 1948, ia hijarah ke Beirut, Libanon.

Selanjutnya tempat tinggalnya terus berpindah-pindah dari Yordania, Suriah dan Lebanon. Setelah taqiyuddin wafat, Kepemimpinan HT dikendalikan oleh Abdul Qodim Zallum asal Palestina.
Dalam situs www.al-islam.or.id disebutkan, tujuan HT adalah melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah islam ke seluruh penjuru dunia. Dengan tujuan ini, berarti HT mengajak Kaum Muslimin kembali hidup secara islami dalam naungan Darul Islam dan masyarakat Islam.

Untuk merealisasikan cit-citanya itu, HT membuat tiga tahapan perjuangan atau marhalah. Pertama, Pembinaan dan pengkaderan ( Marhalah tatsqif ). Tahap ini menitik beratkan pada pembentukan kader-kader partai, pembinaan kerangka gerakan dan membina para pengikutnya dalam halaqah-halaqah  dengan materi pembinaan ( Tsaqafah ) HT yang terarah dan intensif. Kedua, berinteraksi dengan Masyarakat ( marhalah tafa’ul ma’a Al-Ummah ). Lewat interaksi diharapkan masyarakat bisa sadar bahwa islam jawaban satu-satunya atas persoalan mereka. Ketiga, tahapan kekuasaan ( marhalah istilaam al-hukm). Setelah masyarakat sadar bahwa islam mampu menjawab setiap persoalan, umat diharapkan akan menuntut dilaksanakannya hokum Islam sekaligus pembentukan Negara islam.  

TARBIYAH



Tarbiyah dalam pengertian umum islam di Indonesia boleh dibilang mulai ada sejak islam merambah Nusantara. Namun gerakan pembaruan tarbiyah memang baru dilakukan sekitar tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya sejak awal tahun 1980-an, gerakan yang terinspirasi oleh al-ikhwan al-muslimun mesir ini perjalanannya mulai intensif.

Tarbiyah memang banyak mengadopsi pemikiran al-ikhwan al-muslimun. Dalam tahapan dakwah contohnya, mereka membagi menjadi lima, yakni tabligh (penyampaian, artinya menyampaikan nilai – nilai universal Islam ke seluruh lapisan masyarakat), Ta’lim (pengajaran), Takwin (pembentukan), Tanzim (penataan) dan Tanfiz (pelaksanaan).

Al-Fahmu atau pemahaman, yang merupakan rukun pertama dari 10 rukun bai’ah yang dirumuskan Hasan Al-Banna menjadi landasan pertama pilar pembentukan pribadi dan jamaah bagi aktivis Tarbiyah. Bagi mereka, pemahaman inilah yang mengawali setiap pemikiran, pertimbanganan dan keputusan yang sangat menetukan bagi langkah-langkah selanjutnya. Tarbiyah sendiri adalah proses menuju pemahaman islam yang benar.

Meletusnya peristiwa Tanjung Priok masih mengiang di benak masyarakat Muslim Indonesia, dimana penguasa represif saat itu membabat habis setiap pergerakan dan aktivitas berbau Islam. Peristiwa tersebut tidak menyurutkan aktivitas kelompok ini. Saat sejumlah aktivis Islam “Tiarap” dan sebagian mengisi ruang-ruang terali besi (penjara), intensitas Tarbiyah tidak pernah berhenti. Para aktivis Tarbiyah bahu membahu meningkatkan gerak laju dakwah. Mereka menghimpun diri dan berusaha konsisten mengamalkan nilai – nilai Islam.

Mereka terus bergerak, hingga ormas-ormas islam dan pesantren-pesantren tak luput dari tawaran konsep Tarbiyah. Namun, usaha ini justru menunjukkan titik terang ketika para mahasiswa menyambutnya dengan antusias. Aktivitas keislaman di kampus-kampus yang telah lama redup, mulai marak kembali. Para pelakunya lebih dikenal sebagai aktivis dakwah kampus.

KH. Rahmat Abdullah, tokoh yang dinobatkan sebagai Syaikhut Tarbiyah mengenang bagaimana kondisi Tarbiyah pada etape tahun 1980-an. Saat itu banyak para akhwat yang terpaksa harus keluar dari sekolah mereka (SMU) lantaran menggunakan busana musimah (Jilbab). Namun keteguhan dan kegigihan mereka membuahkan hasil dengan diizinkannya memakai Jilbab ke sekolah.

Menurut Ustadz Rahmat, belakangan ditahun 1990-an, kader-kader Tarbiyah mulai bebas berkiprah di masyarakat. Hembusan angin segar mulai dirasakan umat islam. Di saat yang hampir bersamaan , ICMI didirikan dank ran aktivitas islam pun mulai terbuka lebar-lebar. Kondisi ini tidak disia-siakan oleh para aktivis Tarbiyah. Lembaga-lembaga pendidikan, yayasan islam dan berbagai aktivitas bisnis di kalangan Tarbiyah mulai tumbuh berkembang. Komunitas ini pun tak pernah absen menggelar munasharah, penggalangan solidaritas dunia islam.

Tarbiyah juga merujuk pada peringkat amal yang dicanangkan dalam risalah al-Banna. Di antaranya mulai dari membina pribadi muslim, membentuk rumah tangga muslim, membimbing masyarakat, memperbaiki pemerintahan dan mengembalikan eksistensi Negara bagi umat islam. Setelah membina pribadi, keluarga, dan membimbing masyarakat, tarbiyah dituntut untuk berpartisipasi memperbaiki pemerintahan. Menjawab tuntutan ini, kader-kader Tarbiyah yang juga berperan dalam mematangkan proses reformasi, mendirikan Partai Keadilan (PK) yang kini berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Tentu saja kemunculan partai baru ini mengundang perhatian banyak kalangan, apalagi setelah berhasil menghimpun 50 ribuan massa saat pendeklarasiannya di halaman Masjid Al-Azhar, kebayoran baru, Jakarta Selatan, pada 9 Agustus 1998. Ditengah mencuatnya Nama Tarbiyah, Ustadz Rahmat Abdullah mengingatkan kepada setiap aktivis Tarbiyah agar tidak hanyut dengan segala kebesaran. Jangan sampai kebesaran itu justru menghasilkan kebangkrutan. Seharusnya para aktivis kembali menyadari posisinya dengan senantiasa mengingat akar tarbiyahnya. Jangan sampai aktivis Tarbiyah tergelincir karena orientasi kekuasaan.

Lebih jauh Ustadz Rahmat berpendapat, ada paradigma baru yang harus disosialisasikan kepada umat tentang Partai Keadilan Sejahtera. “Jangan lagi memandang makna partai seperti dulu, Partai Keadilan Sejahtera adalah gerakan Dakwah yang merangkumi berbagai lini kehidupan bangsa. Tidak saja politik, tapi seluruhnya”. Dengan kata lain, Ustadz Rahmat hendak mengatakan, meskipun mengusung bentuk partai, sesungguhnya Parti Keadilan Sejahtera adalah gerakan Dakwah yang akan turun di semua lini kehidupan bangsa.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Nahdlatul Ulama



Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai arti kebangkitan ulama, dibidani oleh tokoh - tokoh Ulama seperti Hadhratus Syekh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari (1871-1947) dan KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888 - 1971). NU lahir pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya dan kini menjadi salah satu organisasi dan gerakan islam terbesar di indonesia.

NU lahir dari komite Hijaz yang bertujuan mengupayakan berlakunya ajaran islam yang berhaluan Ahlu Sunnah wal Jamaah dan penganut salah satu mazhab yang empat (Hanafi, Syafi'i, Hanbali, Maliki). Sebagian besar yang mendominasi gerakan ini adalah mazhab Syafi'i.

Berbasiskan massa Pesantren di seluruh Nusantara, NU mencorong menjadi sebuah gerakan kultural yang sangat berkembang. Soliditas di kalangan NU juga sedikit banyak dipengaruhi oleh kuatnya kekerabatan internal, baik yang disebabkan oleh seperguruan dalam menimba ilmu agama (pesantren sebagai tempat belajar), sebab nasab (keturunan), dan juga silaturahmi yang terjalin. Dan tentu saja ukhuwah Islamiyah dan kesatuan akidah.
Kepengurusan NU terdiri atas Mustasyar (berfungsi sebagai Badan Penasehat), Syuriah (berfungsi sebagai Pimpinan Tertinggi), dan Tanfidziyah (berfungsi sebagai Pelaksana Harian). Kepengurusan NU juga dilengkapi dengan berbagai lajnah, lembaga dan badan otonomi.

Dalam kehidupan politik, NU ikut aktif semenjak zaqman pergerakan kemerdekaan di masa penjajahan. Semula NU aktif sebagai anggota Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), Kemudian Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), baik yang dibentuk zaman jepang maupun yang didirikan oleh seluruh oraganisasi islam setelah merdeka sebagai satu-satunya partai politik umat islam indonesia. karena berbagai perbedaan, pada tahun 1952 NU, menyusul PSII. menyatakan menarik diri dari keanggotaan istimewa Masyumi dan berdiri sendiri sebagai partai politik. NU bersama dengan PSII dan Perti membentuk Liga Muslimin Indonesia sebagai wadah kerja sama politik dan organisasi islam. Dalam pemilihan umum tahun 1955 NU muncul sebagai partai politik besar ketiga. Pada masa orde baru NU bersama partai politik lainnya (PSII, Perti, Parmusi) berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kemudian sejak tahun 1984 NU menyatakan diri kembali ke khittah 1926, yaitu melepaskan diri dari kegiatan politik dan menjadi organisasi sosial keagamaan.

Meski khittah 1926 NU pada  mulanya diilhami oleh suatu pemikiran bahwa keterlibatan secara langsung dalam kancah politik praktis ternyata tidak memberikan "keuntungan" yang signifikan bagi kelangsungan hidup organisasi. Perjalanan NU kemudian tampak lebih didominasi oleh aktivitas politik.inilah kemudian yang memunculkan ide untuk kembali ke khittah 1926, Bukan berarti NU harus meninggalkan dunia poltik, namun netralitas politik tetap menjadi pilihan NU. Karena itu, untuk menjaga sikap netral itu, dapat di maklumi jika PBNU melarang adanya rangkap jabatan bagi segenap pengurusnya dengan jabatan politik.

Dalam praktiknya, Anggota NU masih ada yang di PPP, tak sedikit yang menyebrang ke Golkar, dan tidak dirang juga masuk PDI. ini terjadi dalam kurun sekitar 1984 - 1998. Sampai kemudian pada tahun 1999 saat gelombang reformasi menyeruak, NU bisa berkampanye untuk rumahnya sendiri, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Langkah ini dianggap sebagai langkah "non politik" dari "politik" NU, di organisasi politik secara "langsung" (karena berarti ini mencederai khittah 1926) namun menampilkan representasi organisasinya yang memiliki kekuatan sosial cukup signifikan di indonesia dalam jaket PKB.

Meski bukan satu-satunya partai bentukan warga NU, dimasa inilah PKB meraih simpati massa, khususnya dari kalangan santri dimana termasuk islam yang cukup besar, hingga mampu menduduki peringkat lima besar pada pemilu 1999.
Sebagai cucu dari pendiri NU, KH. Hasyim Asy'ari, sosok Abdurahman Wahid atau sering disapa Gus Dur tak terlepas dari perkembangan NU. Menjabat selama tiga periode berturut-turut dalam pucuk kepemimpinan di PBNU, Pemikiran Gus Dur banyak memberikan corak bagi perkembangan NU berikutnya. Ia disebut - sebut sebagai seorang yang memadukan pemikiran tradisional dan kotemporer. Greg Barton, dosen mata kuliah agama dan kajian Asia di Universitas Deakin Australia menulis dalam disertasinya yang berjudul "The Emergence of Neo Modernism", Salah satu nya mengupas pemikiran beberapa tokoh indonesia, diantaranya Gus Dur. Gus Dur adalah sosok yang penuh Kontroversi dan dianggap telah memelopori bangkitnya gerakan Liberalisme Islam di kalangan anak Muda NU.

Gus Dur kemudian terpilih sebagai ketua PKB yang dengan demikian harus meletakkan jabatan sebagai ketua PBNU. Dalam perkembangannya, saat pemilihan presiden dilaksanakan di senayan, pada tahun 1999 terjadi tarik-menarik. Lobi-lobi tokoh-tokoh islam di DPR/MPR menghasilkan konsesi politik yang berujung pada pemenangan Abdurrahman Wahid sebagai nomor satu di republik ini. Namun, selama kepemimpinannya pemerintah menuai badai kritik dan dipenuhi langkah-langkah yang juga penuh kontroversi. Gus Dur akhirnya lengser setelah pertanggung jawabanya di tolak oleh MPR dalam Sidang Istimewa.

Besarnya Organisasi NU yang oleh para penggasnya-dengan segala kejernihannya-dimaksudkan untuk menegakkan Izzul Islam wal Muslimin. Nyatanya cukup memberikan corak bagi khazanah sosial politik di Indonesia. Keberadaan organisasi Islam terbesar di negeri indonesia ini tak pelak mengundang harapan bagi segenap kaum muslimin di Indonesia khususnya untuk memberikan kontribusi bagi kemaslahatan umat, seluas-luasnya.